Search your favorite song right now

1. Canon (piano)

  • Published: 2014-01-26T10:41:33Z
  • By Lexie Xu
Canon (piano)

Lagu yang dimainkan oleh Daniel untuk Rima di Omen #4: Malam Karnaval Berdarah ♥

nothing at of , which is


2. First Love(Piano)

  • Published: 2014-02-21T15:18:25Z
  • By Lexie Xu
First Love(Piano)

Lagu yang dimainkan Daniel untuk Valeria Guntur di Omen #2: Tujuh Lukisan Horor. ^_^

nothing at of , which is


3. Johan Series

  • Published: 2014-01-26T10:38:44Z
  • By Lexie Xu
Johan Series

Nyaris jadi background sound booktrailer-nya Johan Series. Sayang, rada males bikin book trailer-nya, hihi. Nanti deh kalo ada niatan mau cetak ulang ganti cover. (^_^)v

nothing at of , which is



5. lexie xu ^_^

lexie xu ^_^

nothing at of , which is


6. lexie xu

lexie xu

nothing at of , which is


7. Lexie Xu

Lexie Xu

nothing at of , which is


8. Lexie Xu

  • Published: 2014-03-16T08:25:35Z
  • By Elsjul
Lexie Xu

nothing at of , which is


9. Lexie xu

Lexie xu

nothing at of , which is


10. Lexie xu hyiroin

Lexie xu hyiroin

nothing at of , which is


11. Lexie xu canon

Lexie xu canon

nothing at of , which is


12. Obsesi - Jenny Angkasa Voice

Obsesi - Jenny Angkasa Voice

Prolog novel obsesi karya Lexie Xu :)

nothing at of , which is


13. Puisi Distilasi Alkena Karya Wira Nagara

  • Published: 2016-05-07T17:43:11Z
  • By bakameong
Puisi Distilasi Alkena Karya Wira Nagara

Suara: Sifa Siti Hajar Puisi: Wira Nagara Backsound: First Love(Piano) by Lexie Xu (C) Bandung, 8 Mei 2016 Distilasi Alkena Pernah bahagia kita merekah indah tanpa sediktpun gelisah, Saat lantunan rindu adalah alasan setiap pertemuan, Saat mencintai bukan hanya sekedar lamunan. Semurung mendung sederas hujan, Mimpi menuai hebat pada ketiadaan. Aku tak pernah menyesal akan keputusanmu memilih dia, Yang aku sesalkan adalah tiada sedikitpun kesempatan bagiku membuatmu bahagia... Kesalahanku, menjadikanmu alasan segala rindu.. Waktu pun mengurai tetes hujan menjadi bulir-bulir kenangan. Ia menelusup tanpa permisi membasahi nurani. Merangkak naik menyusun kata yang dibicarakan oleh pelupuk, Memaksa mata bekerja mengeluarkan kalimat penuh derita. Degub jantung menyatu detik, menyuarakan penyesalan yang runtuh menitik. Bukan perih yang aku ratapi, tapi pengertian tak pernah kau beri. Sadarlah! Aku telah mencintaimu dengan terengah-engah, Mencibir oksigen dengan menjadikanmu satu-satunya udara yang izinkan mengisi setiap rongga, Menghembus darah dengan namamu yang mengalir membuat jantungku tetap berirama. Padamu aku jatuh hati, bahkan sebelum Tuhan merencakan Adam dan Hawa diturunkan ke bumi. Kesesalahanku, tak pernah mencintai selain kamu... Tingkat sepi paling mengerikan adalah sepi dalam keramaian. Mengulik rasa secara primitik dan tak mengenali dunia telah jauh mengalami perubahan. Bagaimana mungkin aku menjauh hanya padamu keakuanku luluh? Bagaimana mungkin aku pergi jika bayanganmu masih saja menghiasi mimpi? Bagaimana mungkin aku bepindah bila hanya padamu hatiku bisa singgah? Bagaimana mungkin? Bagaimana Mungkin Kau memilih orang lain? Detik yang bebaris hanya membuat pengharapan semakin miris. Kau tak bergeming, kau tak pernah menjawab dengan alasan caraku mendambamu terlampau bising. Otakku terus meneriakkan penyesalan sembari bertanya tentang kenapa, Pada sikapmu yang terlalu membuat semesta menerka-nerka. Tangkupan tanganku masih saja menggenggam harap untukmu, Namun keegoisanmu membuatnya kosong laksana harapan semu. Kesalahnku, isi doaku tak pernah selain namamu... Cinta tak selamanya tentang kepemilikan, tapi cinta adalah tentang keikhlasan, Segala rela aku coba tumpahkan, Pada rajutan tinta yang menulis namaku dalam undangan pernikahan. Paling tidak aku pernah merasakan perihnya ditolak tanpa penjelasan. Paling tidak aku pernah menyadari sakitnya mendamba tanpa balas peduli. Paling tidak aku akhirnya bisa melihat sosok terbaik yang akan mendampingimu, memakaikan cincin di jemarimu, mencium keningmu, dan bersanding bahagia berbagi senyuman denganmu. Terimakasih atas segala rasa, pada hari itu pun aku turut mengucapkan bahagia. Mencoba ikhlas walau air mata pasti mengucur deras Kesalahanku; adalah tak pernah merasa, Bahwa untukku kau tak pernah punya cinta...

nothing at of , which is