Search your favorite song right now

1. rivai adi

rivai adi

nothing at of , which is


2. Tuan Apa Tuhan & Bersyukur

  • Published: 2014-09-19T13:49:44Z
  • By Rivai Adi
Tuan Apa Tuhan & Bersyukur

Catatan Cinta Semesta Pentas Musikalisasi Puisi: “Narasi Cinta Semesta” Oleh : Rivai Adi Para pementas Narasi Cinta Semesta : CM Hizboel Wathony Ibrahim, Ummi Nissa’ Hizboel, Dewi Hizboel, Rivai Adi, Lutvi deKasyaf, Dono Merdiko [donoem] dekasyaf, Ahmad dekasyaf, Adjie dekasyaf, Fikri dekasyaf, Firman dekasyaf, Agus dekasyaf, Benny deKasyaf, Harris dekasyaf Crew Panggung : Anas Taulani, Tony “jengkol” dll. Ekspresi cinta terhadap, tidak harus mengurai air mata, atau melembut-lembutkan suara. Seorang Penyair menuliskan sajak, puisi dan lain sebagainya, sedari awal sudah memilih kata-kata atau diksi untuk menyampaikan rasa bahasa yang lama di endapkan di jiwanya. Ide untuk satu pementasan “Narasi Cinta Semesta” bergulir begitu saja. Tak ada sebuah perencanaan khusus, harus begini atau seperti itu. Ia bak deras air sungai menuju persawahan tempat pementasan sesungguhnya; menyuburkan lahan-lahan jiwa dengan percikan seni dan sastra. Dua minggu untuk empat kali pertemuan komposisi musik, lagu dan puisi tercipta, dan di jahit dengan sentuhan sedikit berbeda. Inilah dunia masdar [red: abstrak] yang begitu mendebarkan. Mendaras setiap puisi adalah pekerjaan yang melelelahkan. Jikalau salah tafsir akan rusak makna yang di maksud oleh sang penyair. Yang perlu di ketahui ialah, semua puisi yang di pentaskan oleh kelompok musikalisasi puisi deKasyaf adalah karya Mursyid Akmaliah, Syekh Maulana Hizboel Wathony Ibrahim. Dan pementasan ini sedikit berbeda, sebab di perkuat oleh dua wanita cantik, yakni, Ummi Nissa Hizboel dan Dewi Hizboel. Adalah “Pesan Cinta dan Kerinduan” di buka dengan apik. Duet pembacaan puisi tersebut begitu indah dan sempurna dengan suasana malam itu; romantis dan penuh dengan debar-debar asmara. Pementasan tersebut didukung dengan tata panggung dan sayup lampu yang elegan dan memesona, dan itu di design oleh Dewi Hizboel sendiri. Tak lupa juga, puisi yang di ciptakan oleh Mursyid Akmaliah adalah puisi yang di ciptaan untuk permaisurinya, Siti Latifah Hizboel. Sarat dengan nasihat cinta semesta tanpa meninggalkan kesan religinya, uswah cinta nan hakiki. Berikut adalah puisi utuhnya: Pesan Cinta dan Kerinduan Sore itu kabut menyelimu deretan pinus, julang gunung mulai tertutup gumpalan awan yang merambah, cahaya senja tetap mampu menerobos di antara celah mega yang membuat sore bertambah indah, gemerlap pantulan cahaya di ujung daun pinus membuat aku tersadar sedang berada di rentang kota darimu, duhai sayangku. Duhai kasihku, Mentari telah bersembunyi dibalik bumi, derai hujan menghantarkan gelap malam, gemerlap cahaya lampu menandakan malam kian larut, kini hanya ada aku yang berselimut rindu padamu, imajiku membawa ke mahligai cintamu yang menyejukkan, kian menambah gigil rinduku padamu, sayaang. Duhai cintaku Kau berbisik dikeheningan hatiku, “rindu yang menggulung, selalu datang bila malam tiba tanpamu, sayaang.” Akupun mendesah, gempita riuh rinduku tetap bergemuruh hanya padamu, duhai kasihku. Nada message masuk dari hand phoneku, Subhanallah, kekasihku di seberang kota nun jauh mengirim pesan, “Cintaku padamu yang menciptakan bara asmara berasap kerinduan yang menggulung-gulung ke semesta kasih sayangmu. Di hening malam ini, kerinduanku membuncah dan meluber dikelopak mataku, air mata mengalir membasahi pipi jadi selancar asmaraku padamu. Aku akan tetap menari di dalam hatimu dengan irama cinta berselendang rindu. Sungguh, aku sangat mencintaimu, sayaang.” Duhai kasihku, Ketika kupandang lautan cintamu, ada tarian asmara di pucuk gelombang asamu, rindu meliuk direlung ombak pesona, serpih buih menepi di pantai romantika, menyeret pikirmu sampai ditepian telaga jiwa, hatiku tergulung ombak asmara di samudera cintamu, jiwaku pingsan dikedalaman kasih sayangmu. Mari kita bersenandung cinta dengan gelora irama asmara kita, tuk merangkai kata jadi cerita romantika cinta kita. “Cintaku bukan sekedar kata dalam sastra, tapi tulus dan halus selembut sutra, kini rinduku padamu mengisi ruang malamku dalam sepi sendiri, kuharap cinta dan rindumu tetap bergelora untukku, aku takut kehilanganmu sayaang.” Duhai kasihku, Cinta dan kerinduan itu bagai bulan dan cahayanya yang sulit dipisahkan, cinta dan kerinduan akan menjadi indah jika kita mampu mengelolanya, jangan terjebak pada cinta dan kerinduan nafsu semata. Jadikanlah cinta dan kerinduan kita untuk merenda cinta tuhan semesta dalam gelora cinta sejati kita, Insya Allah aku selalu mencintaimu, duhai kasihku. Terdengar ruih tepuk tangan berulang-ulang dan kilatan kamera photo saling menghujam... Setelah usai Ummi Nissa’ dan Dewi Hizboel membacakan puisi tersebut di atas. Secara perlahan Anton Wijanarko membuka aba-aba dengan instrument pembuka, dan dekasyaf inheren bersama suasana yang tercipta saat itu. Pembacaan narasi untuk membakar jiwa pendengar, di lanjut Bapak melanjutkan istigfar di sertai munajat pertobatan. Ummi Nissa Hizboel menyanyikan lagu “Kembali Kepada-Mu” dan puisi “Percintaan Ruhani” yang dibacakan oleh Rivai Adi [red: Penulis] kepada saudara-saudaraku, kupersembahkan kepadamu, pentas musikalisasi puisi yang berjudul: NARASI CINTA SEMESTA Kita adalah manusia Manusia yang diturunkan dari surga Manusia yang mengedepankan ego dan keakuan Manusia yang sering melupakan sang pencipta Manusia yang selalu merintih disaat kesakitan Manusia yang angkuh disaat menerima kenikmatan Manusia yang tak luput dari noda dosa Dosa sebagai manusia yang angkuh Dosa sebagai manusia yang rapuh Dosa sebagai manusia yang gaduh Dosa sebagai manusia yang riuh Dosa sebagai manusia yang pendosa Beristigfarlah kalian semua wahai manusia ASTAGHFIRULLOH ROBBAL BAROYA ASTAGHFIRULLOH MINAL KHOTHOYA ROBBI ZIDNI ‘ILMAN NAFI’A WAWAFI’NI AMALAN MAQBULA Ya Allah gusti ampunilah hamba Dari segala dosa dan kekhilafan Hamba mohon bimbingan serta petunjukmu Tuk melaksanakan segala perintahmu Dan menjauhi setiap laranganmu Ilam-ilam kulihat kau datang dengan sebongkah hati hati yang tak pernah terjamah oleh tangan-tangan manusia hati yang berung kasih sayang seirama perjuangan hati yang merindu tuk berjumpa dengan yang empunya rindu hati yang tak pernah diam dalam gelora asmara robbany hati yang menjadi percintaan ruhani Terkulai raga lemah tak berdaya Mata pun seakan malu tuk menatap Lidah kelu tak pantas berucap Sungguh hina hamba di mata-MU Enggan ku basuh raga dengan air suci-MU Tak ku baca ayat ayat suciMU ya Robbi Lisan yang tak terjaga menodai hatiku Menambah jauhnya jarak ku pada-MU Wahai cintaku Wahai kasihku Wahai bidadariku Wahai permasuriku dimana wujud dirimu kulihat kau ada dalam tidak ketiadaanmu keinginanku berpaling darimu Dalam sujud ku memohon padaMU Ampuni hamba Yang tlah lupa kan MU Ya Robbi tuntunlah hamba di jalanMU Ku tak ingin Lagi jauh dariMU Astagfirullah .. Robball Barroyya Astagfirullah .. Minnal Khotoyya ... Astagfirullah .. Robball Barroyya Astagfirullah .. Minnal Khotoyya ... Ilahi kau kirim dirinya kau perindah ruhaninya kau bujuk nafsunya kau belai jiwanya kau gapai hatinya ilahi telah tunai janjimu mengirim cintaku mengantar kekasihku menyerahkan bidadariku mempersandingkan permaisuriku ilahi engkau telah menciptakan dirinya untukku engkau telah memberi apa yang harus kau beri engkau telah menetapkannya sebagai ruhani abadi engkau telah mengasihinya tuk kehidupan yang sejati engkau memberinya tempat dalam mahligai kekekalanmu aku rindu tuk bercumbu dalam kalbu Ku sadari dosaku tak terhingga padaMU Ku mohon curahkan ampunanMU Yg maha luas Berikan kesempatan dalam sisa umur ku Tuk menggapai cinta kasih dan sayang MU kembali Terdengar ruih tepuk tangan berulang-ulang... Aba-aba untuk narasi di komandoi oleh Dono Merdiko [Red: Donoem], di susul oleh Harris, Benny, kemudian, Fikri, Agus, dan hingga seluruh personil dekasyaf. Rivai Adi pun membacakan narasinya. Bapak Anas Taulani siap sedia di balik panggung untuk memainkan asap di saat lampu temaram. Dan unsur magisnya pun dapat. Dalam catatan facebooknya, beliau mengatakan “Alhamdulillah tugasku selesai untuk “memainkan” tombol asap panggung. Sedikit tersendat tapi terpecahkan juga, sebab tertutup pasir, hehehe” dalam renungku tersentak dengan rangkaian kata terbelit melilit dengan tali kalimat terkoyak dengan warna cerita diriku pingsan terbujur tertidur mendengkur mimpi dan mimpi membawaku dalam wacana kutawar cerita jadi kalimat kupinta kalimat jadi kata kugapai kata jadii tak makna dalam rasa yang tak ada hati yang tak ada jiwa yang tak ada akal yang tak ada pikir yang tak ada hanya yang ada dirimu tuhan Terdengar tepuk tangan berulang-ulang... Tak lama pembacaan narasi selesai. Adjie deKasyaf dengan kajonnya menghentak, di lanjut bass dan gitar yang saling memberikan nuansa semi gregorian. Pun “Rasaku Rahasiaku” dimainkan dengan vocal utama Ummi Nissa Humairah, Dewi Hizboel, dan Lutvi dekasyaf. Untuk lagu ini adalah menuju puncak pergulatan di mana gejolak sebagai seorang pejalan atau Salikin teruji, sebab, untuk menuju kepadanya di haruskan fafirru ila-llah, bergegesalah, dan bergeges. Nuansa inilah yang akan di dapat dalam pementasan tersebut, dinamika langkah seorang pejalan menuju kepada-Nya. Dan Rivai Adi, sebagai pembaca narasinya tak ada kompromi dalam hal ini. Ia harus menghentak, mencakar-cakar jiwa agar kesadaran bangkit dari tidurnya yang panjang. Kesadaran sebagai seorang hamba di pecut untuk tetap maju dan istikamah. Komposisi “Rasaku Rahasiaku” membuat degup jantung pendengar di pacu untuk tetap hidup. Kusebut Ulang Namamu Didalam Hatiku Jadikan Nyanyian Merdu Diujung Bibirku Kurasakan Dirimu Dalam Rasa Yang Tak Merasa Kurasakan Dirimu Dalam Rasa Yang Bisa Disapa Kusebut Ulang Namamu Didalam Hatiku Jadikan Nyanyian Merdu Diujung Bibirku Kurasakn Dirimu Dalam Rasa Yang Tak Bisa Dikata Kurasakan Dirimu Dalam Rasa Yang Tak Bisa Diraba Tuhan Cintamu tak ada akhir Cintaku padamu yang kikir Tuhan Kau pakaikan busana syariat di jasadku Kau sediakan terompah thariqoh di kakiku Kau letakkan selendang hakikat di pundakku Kau sematkan cincin tauhid di jemariku Kau hadiahkan kecamata syuhud di mataku Kau pancarkan nur musyahadah ke dalam hatiku Kau hiasi kepalaku dengan mahkota ma’rifah Setelah itu........ Kurasakan Dirimu Dalam Rasa Yang Tak Merasa Kurasakan Dirimu Dalam Rasa Yang Tak Bisa Sapa Kau bawa diriku ke tempat asing Kau perkenalkan tyang aku tidak kenal Kau tebarkan berbagai kesempurnaan Kau perlihatkan yang tak mungkin aku katakan Kau biarkan aku dalam ke tidak berdayaan Tuhan Di saat aku sadar pakai busana syariat Hatiku tersayat jiwaku menggeliat Perih pedih dan nyeri Kurasakan Dirimu Dalam Rasa Yang Bisa Dikata Kurasakan Dirimu Dalam Rasa Yang Tak Bisa Diraba Duh gusti pangeran... Tak henti kucuci busana syariat Kendati kotoran datang silih berganti Dari kanan kiri depan belakang atas awah luar dan dalam Tuhan Aku lelah ingin istirahat Istirahat dari yang ghurur Istirahat dari yang fana Istirahat dari semua Yang harus istirahat Istirahatkan diriku Ya tuhan Kurasakan Dirimu Dalam Rasa Yang Tak Merasa Kurasakan Dirimu Dalam Rasa Yang Tak Bisa Disapa Kusebut Ulang Namamu Didalam Hatiku Jadikan Nyanyian Merdu Diujung Bibirku Kurasakn Dirimu Dalam Rasa Yang Tak Bisa Dikata Kurasakan Dirimu Dalam Rasa Yang Tak Bisa Diraba Kurasakan Dirimu Dalam Rasa Yang Tak Bisa Biasa Didalam Asa Manusia Ruih tepuk tangan berulang-ulang... Dengan skilnya yang mumpuni. Petikan gitar Ahmad deKasyaf membuka cakrawala cinta semesta yang amat indah untuk di dengar. Di padu dengan vocal Ummi Nissa Hizboel. Lagu “Senja di Bukit Cinta” memberikan kesan berbeda dari sebelumnya. Lagu yang di nyanyiakan secara duet ini, oleh Ummi Nissa Hizboel dengan Lutvi dekasyaf, memberikan bobot makna yang berlimpah untuk uswah cinta semesta kepada khalayak ramai. kutelusuri jalan dengan debar-debar asmara letupan kata bersayap mengepak disetiap ranting lara dedauanan menari-nari tertiup angin duhai cintaku, di sini aku memandang debur rindumu di sini aku merasakan debar asmaramu di sini aku terpesona rona kasih sayangmu kilau cahaya senja menjadi permadani langkah kita semburat langit di upuk barat merona merah tembaga dalam sunyi ada irama asmara Reff: duhai kasihku, kita duduk merangkai butir-butir mutiara asmara jiwa kita terbang dengan sayap kasih semesta hati kita saling menggenggam getar-getar cinta peluk mesra kita menghempaskan semua derita Puisi: duhai sayangku, dikedalaman hatimu kulihat hanya ada sajadah pengabdianmu kuntum bunga sabar mewangi memenuhi ruang jiwamu percikan air suci cintamu bagai butiran salju diatas mawarmu bias cahaya ikhlasmu menelusup kesetiap urat nadi kehidupanmu ilahi, kau manjakan aku dengan; mengirim permaisuri dari langit ketujuh dalam wujud dirinya menghidangkan denyar-denyar rindu dengan cinta sucinya menghamparkan permadani peristirahatan jiwa dengan kasihnya membuatkan mahligai peraduan romantika dengan asmaranya ilahi robby, kuterima hadiah darimu, cinta sejati yang mewujud dalam dirinya kuhiasi amanat darimu dengan menjalani takdir percintaanku denganya kini aku bersembah syukur kepadamu, bersujud hanya kepadamu terimakasih, tuhan, Allahu Robbul'alamin. Untuk lagu “Senja di Bukit Cinta” memang banyak sekali penikmatnya. Di samping lirik dan puisinya yang begitu romantis. Komposisi arasementnya pun mudah di tangkap dan berkesan di hati para pendengarnya. Lagu yang di ciptakan oleh Lutvi deKasyaf begitu fenomenal di dunia sastra sejak dekasyaf membuka diri di panggung-panggung terbuka. Kini, dengan adanya Ummi Nissa Hizboel deKasyaf semakin kuat dalam olah vocalnya. Kita tunggu saja Tuhan punya rencana apa untuk kedepananya... Tak kalah mumpuni dengan Ahmad dekasyaf, gitaris yang satu ini, Harris deKasyaf membuka ilustrasi musik untuk narasi “Kritik Spiritual”. Narasi ini cukup keras untuk mereka yang memiliki sifat munafik abadi, manusia yang selalu membenarkan dirinya sendiri, yang tersesat di jalan cahaya, yang tergopoh-gopoh memandang suatu persoalan, dan terlalu hiperbola dalam membicarakan sesuatu, kalamus sutuh. Berikut adalah narasinya: tuan apa tuhan hai tuan yang menjadi tuhan kau suruh aku dakwah setelah aku berkiprah kau sebut diriku latah hai tuan yang menjadi tuhan kau suruh aku ibadah sesudah aku menyembah kau hardik dengan sumpah hai tuan yang menjadi tuhan kau suruh aku salat setelah diriku berbuat kau kecam aku terlaknat hai tuan yang menjadi tuhan kau suruh aku zakat sesudah diriku bergiat kau katakan aku penghianat hai tuan yang menjadi tuhan kau suruh aku puasa setelah aku merasa asa kau kata sok ingat lusa hai tuan yang menjadi tuhan kau suruh aku berhaji sesudah laku yang terpuji kau kata diriku ingkar janji hai tuan siapa yang menjadi tuan di bumi-Mu ya Tuhan aku sudah tak tahan berjalan pada titian tuan yang berjubah tuhan ilahi disetiap ibadah aku menangis melihat-Mu disetiap zikir aku tertunduk tak berani menatap-Mu disetiap doa aku malu pada sifat Rahim-Mu disetiap desah nafasku mengalir nama-nama-Mu Ilahi kesadaranku menyapa bahwa ibadahku warna nafsuku zikirku irama rayuanku doaku tarian egoku hidupku suara keangkuhanku tapi aku tetap rindu sapaan-Mu rindu rayuan-Mu rindu belaian-Mu rindu cumbu-Mu rinduku diri yang dirindu Sejenak untuk kontemplasi dari riuh, dan meresapi nasihat, kritik tersebut di atas. Ummi Nissa Hizboel menyanyikan lagu “Bersyukur”. Untuk [perlu] di ketahui oleh para pembaca, Ummi Nissa Hizboel tidak hanya pandai dalam olah vocal, beliau juga pencipta lagu. Lagu “Kembali Kepada-Mu”, “Bersyukur” dan banyak lagi adalah ciptaannya. Jika ingin mendapatkan CDnya sila hubungi beliau atau carilah di toko musik terdekat. Bersyukur Alhamdulillah wa syukurilah Bersyukur kita kepada Allah Atas nikmat dan hidayah Yang Allah berikan kepada kita Betapa besar karunia yang Kau berikan Tapi aku masih jauh dari jalanMu Masih banyak dosa yang akan aku lakukan Ku ingin bertobat dan bersyukur padaMu Kau berikan hidup, Kau berikan sehat Kau berikan rezeki, Kau berikan hati Kau tinggikan derajat, Kau muliakan umat Kau lindungi kami, Kau berkahi kami Subhanallah walhamdulillah walailahailallah wallahu akbar Subhanallah walhamdulillah Walailahaillah wallahu akbar Tanpa musik, tanpa instrument apa pun. Dengarkanlah angin bertiup. Hening untuk sejenak. Narasi ini adalah puncak dari pada pentas musikalisasi puisi “Narasi Cinta Semesta”. Rivai Adi dengan suara parau melantangkan narasi di bawah ini: kulangkahi gunung nafsu, kudaki bukit zat kutelusuri titian riyadhoh mujahadah kutengok penjuru alam, namun tak juga aku melihat-Mu Ilahi aku lelah memcari-Mu aku bosan menunggu-Mu aku jemu menanti-Mu aku risau diri resah harapan pada-Mu kutunggu Kau di bumi, tak muncul kujaga Kau di langit, juga diri-Mu tak datang kunanti Kau di surga, mengapa Engkau tak hadir juga aku pulang dengan pasrah sambil kubuka pintu hatiku nur-Mu menerobos hatiku, menerangi rumahku kutengok lewat jendela hatiku, kulihat diri-Mu senyum seraya menyapaku kusapa diri-Mu yang menjawab diriku, Kau Tanya diriku yang menjawab diri-Mu siapa engkau, aku kelu tak ada jawab dalam ungkap kata cerita! ilahi aku rinduuuuuuuu pada-Mu aku tetap berjalan di atas kain, walau kutemui benang kutiti benang, kulihat kapas, kuungkap kapas, satu rasa kulukis tak tampak warna, tak ada di dalam kapas hanya putih yang tak bisa di kata serasa kosong tapi berisi isi yang kosong, kosong di lihat isi bagai titik titik menjelma gurat garis, garis mengusung kata kata bangkit jadi kalimat, kalimat mengukir cerita adakah cerita tak beralur makna mana makna cerita sulit di cerna Benny dekasyaf dengan melodi akustiknya, membawa suasa semakin magis, Nadzam Abu Nawas di lantunkan secara berjama’ah. Ini adalah puncak rasa semesta. Yang sebelumnya kita telah menenggak anggur hakikat dalam perjalanan seorang hamba. Mabuk, terjatuh, tergelincir, menangis, menggeliat, pedih bercampur sedih dan seolah berkata “dimanakah cahaya yang menyinari jiwa ini”. Bapak, Syekh Maulana Hizboel watahony Ibrahim membacarakan puisi “Narasi Cinta Semesta” seolah Tuhan menjawab rintih jerit seorang Salik. Nadzham Abu Nawas di lantunkan sayup menggigit... narasi cinta semesta anak-anakku... pada suatu ketika, tinta mengalir jadi kata hingga cerita kita laksana seberkas cahaya dikegelapan alam raya menghujam dan menembus lapisan langit tanpa sisa membelah lorong hitam tuk menuju dunia nyata anak-anakku… kau percikan cahaya dari sumber cahaya yang tak pernah padam kau rangkaian nama yang berserak di alam fana tuk bersemayam kau pecahan jiwa yang menggumpal menjadi ajsam kau keutuhan wujud dalam kenyataan semesta alam anak-anakku… berabad aku menanti kehadiranmu dalam relung cahaya aku tahu kau sedang berjalan dan mencari sumber cahaya kau laksana seorang musafir yang dahaga dengan cintanya cinta yang empunya cerita bagi kita yang tak berdaya di dunia nyata anak-anakku… pesanku padamu, raihlah cinta pada sang empunya cinta karena kita akan selalu bersama dengan yang dicinta sedang rahasia cinta hanya ada pada sang pencipta yang selalu bersama kita adalah tuhan alam semesta anak-anakku... kini engkau telah dewasa untuk mengenal segala musim dan cuaca maka apa pun yang kau rasa tetaplah setia pada kearifan neraca jadilah penabur benih kebenaran agar semuanya dapat membaca di sini bapak terus setia merajut doa tuk menghantar kalian hingga sampai pada sang pencipta salam berjuta doa dari bapak yang tak punya apa-apa Di tutup dengan hatakkan “Tak” oleh Bapak. Dono Merdiko [donoem] deKasyaf memainkan bassnya dan Fikri dekasyaf beserta Agus dekasyaf menabuh jimbe dan perkusi, firman dan lain-lainnya secara massal menyanyikan lagu penutup, musikalisasi puisi mantra yang berjudul “Tak” TAK tak ada tak tidak tak ada kata nan dapat di ungkap dalam cakap sikap tak ada yang dapat di buat tuk menyurat nan tersirat tak ada nan dapat di rasa pada asa di masa tak kata tak ungkap tak cakap tak sikap tak buat tak surat tak sirat tak rasa tak asa tak masa tak tak tak tak tak tak tak tak Begitu bergemuruh dan di sambut dengan riuh tepuk tangan pada khalayak dan di tutup oleh layar Al fatihah. Pementasan usai...!?

nothing at of , which is



4. Dewi Hizboel - Mantra Cintaku

  • Published: 2014-01-08T08:15:49Z
  • By Rivai Adi
Dewi Hizboel - Mantra Cintaku

Judul Puisi : Mantra Cintaku Karya : Dewi Hizboel Musik : Ryosuke Nakanisi Di Bacakan Oleh : Dewi Hizboel

nothing at of , which is


5. Kanjeng Gusti - Tak

  • Published: 2015-08-18T09:15:05Z
  • By Rivai Adi
Kanjeng Gusti - Tak

nothing at of , which is



7. Puisi Tak di Cover Buku 365 Kalam Hikmah

  • Published: 2014-01-07T09:00:13Z
  • By Rivai Adi
Puisi Tak di Cover Buku 365 Kalam Hikmah

TAK [ Puisi Cover Belakang Buku 365 ] Oleh : CM Hizboel Wathony Ibrahim Musik : Ryosuke Nakanisi Pembaca Puisi : Rivai Adi aku tetap berjalan di atas kain, walau kutemui benang kutiti benag, kulihat kapas, kungkap kapas, satu rasa kulukis tak tampak warna, tak ada di dalam kapas hanya putih yang tak bisa di kata serasa kosong tapi berisi isi yang kosong, kosong di lihat isi bagai titik titik menjelma gurat garis, garis mengusung kata kata bangkit jadi kalimat, kalimat mengukir cerita adakah cerita tak beralur makna mana makna cerita sulit di cerna

nothing at of , which is




10. Dewi Hizboel - Bapak

  • Published: 2014-01-08T09:33:21Z
  • By Rivai Adi
Dewi Hizboel - Bapak

Judul Puisi : Bapak Karya : Dewi Hizboel Musik : Clannad Ost Shining in the sky di Bacakan Oleh : Dewi Hizboel

nothing at of , which is


11. Nama Untuk Siapa

  • Published: 2015-02-10T23:48:36Z
  • By Rivai Adi
Nama Untuk Siapa

Nama Untuk Siapa Karya : CM Hizboel Wathony Ibrahim nama untuk siapa ada kata sastra yang tak bernama berkilah derngan kata bersayap apalah arti sebuah nama nama adalah kata pasti ada nama dari yang dinamakan tak ada nama berarti telah sirna nama adalah wujud puji dan doa puji untuk yang punya nama doa untuk yang diberi nama apakah ada yang dinamakan siapa yang punya nama aku engkau atau dia? apakah yang bernama yang punya nama yang dinamakan siapa namamu? MURSYID AKMALIAH, 10 FEBRUARI 2015. Puisi ini di baca oleh Rivai Adi dalam sebuah acara TABAYUN di Pesantren Akmaliah.

nothing at of , which is


12. Liqo Hizboel

  • Published: 2013-12-31T23:29:58Z
  • By Rivai Adi
Liqo Hizboel

ada dan tidak CM Hizboel Wathony Ibrahim kutulis kata tak bermakna kusingkap hidup tak bernyawa kutanya kusapa tak ada jawab apa ada di tidak apa tidak pada ada siapa yang tidak di mana ada rasa malu tak bergeming pintaku melihat kehendakku marahku gaung kataku hardik ajakku kehendakku beku lenyap ikhtiarku tuhan penguasa diriku kini langkahku kaku jiwaku beku merana daku melihat diriku berwujud baku hatiku di buat kaku berliku oleh empunya daku

nothing at of , which is





16. Liqo Hizboel - Ada dan Tidak

  • Published: 2014-01-02T09:24:31Z
  • By Rivai Adi
Liqo Hizboel - Ada dan Tidak

Puisi karya CM Hizboel Wathony Ibrahim yang di bacakan oleh Liqo Hizboel yang berumur belasan pada acara tahun baru yang bertajuk MANTRA CINTA DI AKHIR TAHUN, Acara tersebut penuh dengan kejutan-kejutan, di samping di adakan pula Grand Launching buku 365 Kalam Hikmah. Liqo dengan semangat membacakan puisi ini dengan cinta dan kasih sayang. Ini adalah hasil record saat latihan, dan dalam waktu satu jam dia mampu menghayati puisi tersebut. Selamat Menikmati Rivai Adi

nothing at of , which is


17. Dewi Hizboel - Latihan Monolog [dibuang sayang]

  • Published: 2015-02-11T23:17:31Z
  • By Rivai Adi
Dewi Hizboel - Latihan Monolog [dibuang sayang]

Rekaman ini adalah proses latihan sebelum tampil dalam acara TABAYUN di Pesantren Akmaliah - dibuang sayang. Yang akhirnya pada acara tersebut Dewi Hizboel berhasil membacakannya dengan sempurna. rekaman - dibuang sayang ini, akan menjadi dokumentasi berharga, yang di mana tidak ada sesuatu yang instan diraih didunia ini, perlu pendakian. Terima kasih

nothing at of , which is